UTS AGAMA DAN ASASH SKILL 1 KAMPUS MILENIAL ITBI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu." (Sutta Pitaka, Udana VIII: 3).
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa pali adalah "Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang" yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang tanpa aku (anattha), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.
3.Vihara Buddhagaya Watugong mempunyai sejarah panjang hingga perkembangan yang besar pada saat ini. Kurang lebih 500 tahun sesudah keruntuhan Kerajaan Majapahit, muncul lah berbagai kegiatan dan peristiwa yang menyadarkan berbagai kalangan penduduk akan warisan luhur nenek moyang yaitu Buddha Dhamma agar dapat kembali dipraktekkan oleh para pemeluknya. Usaha yang semula banyak digagas di zaman Hindia Buddha.Akhirnya harapan akan adanya orang yang mampu untuk mengajarkan Buddha Dhamma pada para umat dapat terwujud dengan kehadiran Bikkhu Narada Maha Thera dari Srilanka pada tahun 1934.
Pada tahun 1955 Bhikkhu Bikkhu Ashin Jinarakkhita memimpin perayaan Waisak 2549 di Candi Borobudur, pada saat itu juga ada seorang hartawan yang menjadi tuan tanah dari Semarang yang bernama Goei Thwan Ling dengan latar belakang agama Buddha yang terkesan pada kepiawan dan kepribadian dari Bikkhu Ashin Jinarakkhita maka Goei Thwan Ling menghibahkan dan mempersembahkan sebagian tanah miliknya untuk digunakan sebagai pusat dan pengembangan Buddha Dhamma. Tempat itulah yang kemudian diberi nama Vihara Buddhagaya. Pada 19 Oktober 1955 didirikan Yayasan Buddhagaya untuk menaungi aktivitas vihara. Dari vihara inilah kemudian satu episode baru pengembangan Buddha Dhamma berlanjut.
Mulai tahun 1955, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sang pelopor kebangkitan Buddha Dhamma di nusantara menetap di Vihara Buddhagaya Semarang. Banyak sejarah besar yang beliau torehkan bersama Vihara Buddhagaya, seperti Upasika Indonesia saat perayaan Asidgha pada bulan Juli 1955, menggagas perayaan Buddha Jayanti yang diperingati oleh umat Buddha di seluruh dunia tahun 1956, penanaman pohon Bodhi pada tanggal 24 Mei 1956 dan pendirian Sima Internasional pertama di KASAP
Kemudian beberapa saat selama kurang lebih delapan tahun vihara ini sempat terlantar, namun sekarang bangkit kembali di bawah binaan Sangha Theravada.
4.Yaitu dengan cara penyerahan diri dalam perbuatan, sedangkan perbuatan tersebut merupakan kebajikan (puñña), dan itulah yang disebut hidup beragama. Perbuatan itu hendaknya dilandasi oleh kesadaran, dilakukan dengan sadar, bukan kebiasaan, bukan adat istiadat, bukan pula tradisi.
5.Hidup tenang bisa dinikmati, bila kita menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, dan juga menjaga nilai kemanusiaan kita dari perbuatan jahat kita sendiri. Kemajuan teknologi membebaskan kita dari keterbelakangan, dan agama, Dhamma, membebaskan kita dari kekhawatiran serta kegelisahan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar